Jumat, 20 Mei 2016

Catatan Kaki Tentang Rinjani

Rinjani...
Tidak ada persiapan khusus sih, paling cuma lari sekali seminggu doang itu pun paling lama hanya setengah jam, anggap aja nungguin dan berdiri di dalam kereta atau ngejar-ngejar kereta sudah bagian dari olahraga. Tapi ya gitu...beberapa hari sebelum berangkat deg-degan pun dimulai seperti aku bisa nggak ya, nanti di sana nyusahin nggak atau aku summit nggak ya, hahaha. Kebiasaan sebelum mulai mendaki sih...Untungnya, si leader dari open trip, bilang kalau summit Semeru lebih susah dari Rinjani. Nah...karena aku sudah pernah summit Semeru, oke...ini seperti salah satu penenang.

Tibalah saat keberangkatan menuju Lombok, karena memang meeting point di Bandara International Lombok tepatnya Solaria. Dan...kita yang dari Jakarta betah banget di Solaria dari jam 12 siang - jam 5 sore karena memang kita yang pertama tiba dan mesti nungguin teman-teman yang lain, somehow...agak boring juga sih ya.

Bertemu dengan dua puluh lima orang baru dari berbagai kota di Indonesia seperti Jambi, Kalimantan (rasanya sedih banget waktu teman-teman yang dari kedua kota ini bilang, kalau di tempat mereka kabut asap merajalela, nggak bisa hirup udara segar dan nggak bisa melihat matahari dan betapa bahagianya mereka ketika akhirnya bisa menikmati suasana di Lombok). Ada juga teman-teman yang dari Yogya, Magelang dan Semarang (gaya bicara teman-teman yang medok dengan logat Jawa yang halus banget, aduh...itu rasanya menyenangkan sekali bicara dengan mereka). Ada juga kita-kita yang dari Jakarta, yang tiap hari mesti berhadapan dengan kemacetan, hiruk-pikuk ibukota, ah...yang ini nggak usah diceritainlah ya, hahaha. Dan...yang paling spesial adalah teman-teman yang dari Malaysia. Walaupun negara kita dan Malaysia serumpun dan memakai  bahasa Melayu, tetap aja ada beberapa kata dan kalimat yang bikin bingung. Tapi sumpah mereka so humble and good :-)

Tanggal 19 September 2015, sekitar jam 11 malam, kita tiba di penginapan di Sembalun dan edisi saking katronya karena nggak pernah lihat bintang-bintang bertaburan banyak banget, langsung dong, kita lihat ke atas dan WAW banget, hahaha. Dan keesokan harinya, siapa sangka kalau ternyata posisi kita itu dikelilingi oleh perbukitan dan tara---gunung Rinjani kelihatan.
Gunung Rinjani tampak dari Sembalun di pagi hari
Tanggal 20 September 2015, sebelum memulai pendakian, aku dan teman-teman, mengunjungi sebuah tempat di Sembalun yang menurutku -sejauh mata memandang hijau-, yups...Bukit Selong.
Pemandangan dari atas Bukit Selong


Gunung Rinjani Tampak dari Bukit Selong




Ini kita masih nungguin teman yang daftar untuk simaksi












Sekitar pukul sembilan pagi, aku dan teman-teman memulai kegiatan pendakian.


This is Keluarga Cemara :-)
Dan sumpah, di sana itu panas dan terik banget, sejauh mata memandang savana yang memang bikin terkagum-kagum, tapi...kita juga butuh pohon untuk berteduh. Saking jarangnya nemu pohon dari Sembalun ke Pos II, mau istirahat juga jadi mikir dua kali. POHON MANA POHON??? Hahaha



Satu-satunya cara, langkah memang harus dipercepat biar bisa segera ketemu sama pohon, bisa adem-ademan, bisa tidur-tiduran (hahaha...jadinya malas gerak). Dan...ini pendakian pertama yang menguras standar air minum. Biasanya, minum itu masih bisa sedikit demi sedikit, kalau selama di jalur pendakian Rinjani, bawaannya pengen minum melulu saking haus dan panasnya.

Dan, baru kali ini mendaki sepanjang jalur nggak ketemu sama orang Indonesia (selain tim dan bapak-bapak porter yang luar biasa tentunya). Kita malah ketemu sama bule-bule yang cuma pake celana gemes dan tanktop atau kaos. Jadi, nggak ada deh yang biasanya bilang, Semangat kakak, pos I, pos II dekat lagi kok. Hehehe

Thing that make most surprised, begitu tiba di pos II, ya ampun...itu semua bule  isinya. Kita bahkan nggak kebagian tempat, ah...sudahlah :-)

Akhirnya porter tim kita pasang tenda dadakan di tanah yang lapang dan OMG...pemandangan di sana itu luar biasa cantik tapi ya gitu masih banyak sampah.


Sejauh mata memandang


Setelah dari pos II kita lanjut ke pos III yang jadi tempat ngecamp kita. Rencana awal itu, kita langsung lanjut ke Plawangan Sembalun tapi karena memang tenaga udah cukup diporsir ya akhirnya diputuskan ngecamp semalam di pos III. Oke, di pos III ternyata cukup banyak juga monyet yang katanya mau ambil barang-barang pendaki. Dan seperti biasanya...malam itu juga aku gak bisa tidur sama sekali ntah efek suara angin yang kencang banget atau apalah itu, aku menghabiskan waktu dengan nonton drama korea, hehehe.

Ini tempat kita ngecamp


Sekitar jam 08 pagi, aku dan tim udah siap untuk berangkat menuju Plawangan Sembalun, yang jalurnya kebanyakan nanjak dan sedikit bonusnya. Hahaha. Katanya, kita melewati Tujuh Bukit Penyesalan, yang ntah kenapa, masih bikin aku bertanya-tanya, masa iya bukitnya tujuh? Atau malah lebih? Pokoknya Bukit Penyesalan jelas tidak membuat menyesal sih karena walaupun nanjak terus, terik pula, tapi...anginnya cukup membantu bikin adem dan setiap menoleh, ah...pemandangannya W.A.W lah. Dan...ada satu tanjakan yang bikin teringat dengan Tanjakan Cinta di Ranukumbolo dan...dengan tekad yang kuat aku melewati tanjakan itu tanpa menoleh yang kemudian, INI GUE DEMI APAHHHH GAK LIHAT KE BELAKANG. Hahaha.

Dan ntah di bukit ke berapa, seorang temanku yang sedang bersandar di pohon, limbung dan jatuh, aku yang ada tepat di depannya langsung panik, teriak kencang, dan turun untuk membantunya. Itu salah satu momen yang bikin aku panik, deg-degan dan takut mendaki gunung. Kaki dan tangannya terluka, aku lap dulu dengan tissu basah dan nempelin hansaplast. Untungnya, seorang teman dengan baik hati rela mengangkat carriernya, dan...itulah gunung, tak peduli siapa dan dari mana pun kita, ketika ada yang kesusahan dan butuh pertolongan, sebuah keharusan untuk membantu sebisa kita :-)

Siang itu ketika cuaca sedang terik-teriknya, kami pun tiba di Plawangan Sembalun, dan OH MY GOD, kelihatan sudah Danau Segara Anak. Biru. Cantik.
Danau Segara Anak



Untuk summit, kami mulai sekitar pukul setengah 3 pagi. Dan jangan tanya jam berapa aku tiba di puncak Anjani. Hahaha. Jalurnya ga terlalu lebar dengan sisi kiri dan kanan jurang, dan anginnya juga kencang. Jadi, ketika angin berhembus kencang, yang kulakukan adalah tancapkan trekkingpole dan menunduk. Pagi itu, di jalur summit, aku melihat horizon, dan rasanya luar biasa.

Perjalanan masih jauh ternyata. Hingga matahari terbit dan rasanya sudah mulai panas, aku belum tiba di puncak juga. Menyerah? Tidak dong. Dari atas puncak dipanggil oleh teman-teman antara tambah semangat dan kesal, hehehe.
Ntah pukul berapa aku tiba di puncak, ternyata puncaknya tidak terlalu luas. Tapi pemandangannya bagus. Bagus banget malah.
Ay ye...akhirnya anak gadis tiba juga di puncak Anjani






Tidak ada komentar:

Posting Komentar